Liburan
kelulusan telah berakhir, kini saatnya aku Elia memasuki kehidupan SMA ku.
Setelah lulus dari salah satu SMP negeri di Bogor, aku memutuskan untuk masih
melanjutkan studiku di salah satu SMA favorit di kota ini. Disanalah aku mulai
mengenal cinta pertamaku. Dikala masa orientasi siswa, ya....! disanalah secara
tidak sengaja aku melihatnya. Seketika hatiku merasakan perasaan yang sangat
damai, benar-benar rasa yang sungguh luar biasa. Belum pernah sebelumnya jantungku
berdegub sekencang itu saat melihat seorang pria tampan. Saat itu aku tidak
bisa menorehkan pandanganku terhadapnya. Dia adalah Radit, Radit adalah siswa
baru yang mengikuti masa orientasi seperti halnya dengan aku. Bisa dibilang aku
jatuh cinta pada pandangan pertama. Perasaan bahagia menyelimuti hatiku pada
saat itu.
Selama
tiga hari aku mengikuti masa orientasi dan selama itu pula aku terus mengawasi
Radit. Aku tidak pernah menyapanya , apalagi berkenalan dengannya. Bahkan aku
dan Radit berbeda kelompok. Aku hanya bisa mengaguminya dalam hatiku. Tanpa
terasa masa orientasiku telah selesai. Suatu hal yang tidak pernah terfikirkan
olehku ternyata aku dan Radit di tempatkan pada kelas yang sama. Hari itu
adalah hari awalku untuk belajar di
dalam kelas yang sama dengan Radit. Di hari itu pula aku mendapatkan teman
sebangkuku, ia bernama Ana. Teman baruku itu sangat cantik dan menawan.
Sudah
selama 3 bulan aku dan Ana saling mengenal. Hingga Ana tak segan lagi untuk
menceritakan masalah-masalah hidupnya dengan aku. Begitupun dengan aku, aku
menceritakan isi hatiku pada Ana mengenai radit. Ana adalah orang yang sangat
aku percaya. Hingga suatu saat Ana tidak tega melihatku karena aku hanya bisa
mengagumi Radi dalam hatiku, tanpa sedikitpun Radit mengetahui isi hatiku. Ana
menceritakan padanya tentang apa yang selama ini aku rasakan tanpa
sepengetahuanku.
“Radit ke sini”, panggil Ana padanya
“oh.....Ana ada apa ? tumben kamu manggil aku”, jawab
Radit
“Aku mau ceita sama kamu tapi kamu jangan bilang ya sama
Elia”, sahut Ana
“Memang kamu mau cerita tentang apa An ?”, tanya Radit
“Kamu tahu gak dit, elia itu suka sama kamu”, jawab Ana
“Masak sih......tapi selama ini dia
gak pernah nyapa aku An”, bantah Radit
“Beneran dit aku gak tega lihat
dia”, seru Ana
Berawal
dari saat itulah Radit sering menyapaku. Sebagai seorang siswa perempuan yang
merasakan jatuh cinta untuk pertama kalinya, aku terlalu polos dan tidak
mengerti tentang cinta. Aku pikir jika Radit sering menyapaku, itu pertanda
bahwa ia menyukaiku. Ternyata hal itu salah, Radit justru menyukai sahabatku
Ana. Tanpa sengaja aku melihat sms dari Radit kepada Ana yang isinya selama ini
mereka berdua hanya merasa kasihan denganku, untuk itulah setiap bertemu
denganku Radit selalu menyapaku.
“An....Radit suka kan sama kamu ?”,
tanyaku pada Ana
“El....... tunggu dulu aku bisa
jelasin semuanya”, sahut Ana
“Aku itu menganggap kamu adalah teman
yang paling aku percaya, aku tidak ingin
mengorbankan cinta kalian hanya demi aku”, bantah elia seraya meneteskan
air mata
“Tapi El..... aku juga tidak menyangka
akan terjadi seperti ini tadinya aku hanya ingin membantumu, aku tidak tega
melihatmu mengaguminya tanpa sepengetahuan Radit”, jawab Ana
“Aku tidak merasa kecewa padamu An, aku
sangat mengerti dengan keadaan itu”, kataku
“Percayalah el....padaku, sebenarnya aku
tidak ingin membuatmu kecewa, aku melakukan itu karena aku ingin membantumu,
aku sering smsan dengannya, tapi semakin lama kita saling suka”, cerita Ana
padaku
Selepas
kejadian itu Ana dan Radit menjadi sepasang kekasih. Rasanya sungguh
menyesakkan melihat mereka berjalan bersama. Mereka memang sangat baik
kepadaku. Bahkan Ana dan radit masih sering mengucapkan kata maaf padaku. Meskipun
aku sudah sangat sering mengucapkan kalimat gak papa.
“ Aku malah seneng melihat kalian bisa
berjalan bersama”, kataku pada Ana meskipun sebenarnya perasaanku sakit.
Sesuatu
yang baru pertama kali aku rasakan, rasa senang dan sedih mencintainya walaupun
tak berbalas. Hanyalah lembaran buku diary yang menemaniku. Di sanalah
kutumpahkan emosi dan air mataku. Tidak mungkin aku bercerita pada Ana karena
aku tahu itu akan melukai perasaanya. Aku masih terus berusaha untuk melupakan
Radit meskipun itu sangat sulit untukku.
Di
awal bulan oktober, aku merasakan perubahan terjadi di dalam diriku.
Akhir-akhir ini aku kurang sehat. Aku sangat mudah lelah dan pingsan. Hal ini
tak pernah sedikitpun aku ceritakan pada sahabat dan orang tuaku. Hingga di
hari senin aku pingsan pada upacara hari itu. Setelah kejadian itu, kondisi
tubuhku berangsur-angsur memburuk. Melihat kejadian itu orang tuaku membawaku
ke dokter dan sungguh mengejutkan karena aku mengidap penyakit leukimia.
Aku
selalu merahasiakan penyakitku ini pada Ana, karena aku yakin bahwa radit sudah
cukup untuk membuatnya bahagia. Lagi-lagi hanya diary yang menemaniku saat ini.
5
oktober 2012
Dear diary,
Entah pesona apa yang ia semaikan ke dalam hatiku. Hingga
ribuan duri yang tertancap di hatiku, tak hentikanku untuk terus dan terus
mencintainya. Meskipun aku tahu Radit adalah milik sahabatku. Entah bagaimana
aku harus menghadapi hidup ini. Aku tahu Tuhan sangat adil pada umat-Nya. Aku
tahu juga bahwa penyakitku ini adalah jalan yang terbaik bagiku..
Keep
spirit
Elia
Semenjak kejadian itu, Ana sering
bertanya padaku mengapa wajahku pucat. Namun, aku hanya menjawab kalau aku
belum makan. Penyakit yang mematikan ini
sering kututupi dengan senyumaan ceria di wajahku. Hingga pada saat kenaikan
kelas aku meninggalkan Ana, Radit dan orang tuaku yang sangat aku sayangi. Aku
juga meninggalkan Radit, cinta pertamaku yang hanya bisaku kagumi dalam hati
dan tak pernah bisa untukku miliki. Melihat kejadian itu aku yakin Ana akan
marah karena aku berbohong padanya dan aku tahu ia merasa kehilangan. Kini
semoga aku berada di alam-Mu yang damai dan indah.