Melalui
dirimulah sajak ini dapat ku tulis dalam lembaran bait-bait tentangmu. Kau
memberi rasa keindahan dan kau memberi rasa duka di dalam hidup ini. Beribu
senyum ku beri untuk setiap kenangan yang kau tinggalkan. Namun beribu air mata
pula ku teteskan untuk sebuah kesedihan yang banyak kau tinggalkan untukku.
Memoriku tentangmu tak pernah pudar. Setiap ku buka diaryku slalu ku isi dengan
lukisan kenangan kita yang sempat tertinggal di dalam otak ini. Penaku seakan
tak sanggup berhenti untuk menuliskan semua kisah tentang kita. Mengapa kisah
ini selalu menjadi ilusi dalam hidup ini. Kala itu sekian banyak tangisanku
terbayar dengan senyuman pada 18 Juli. Ku kira aku sedang bermimpi, tak heran
aku sering sekali bermimpi sedemikian rupa, yang akhirnya ketika aku terbangun
semua adalah fana. Berbeda dengan malam itu ingin sekali malam itu tak pernah
hilang dan berlangsung lama.
Ku
tunggu kau di kotaku. Ku tunggu pertemuan kita. Sekali lagi entah apakah ini
benar atau tidak atau ucapan itu hanya isapan jempol belaka. Aku selalu siap
jika itu hanyalah janji manisnya, karena aku mengerti aku bukanlah siapa-siapa
untuknya. Aku hanya buku usang dan lembaran masa lau baginya. Harapan bahagia
ini akankah benar-benar terukir dalam sebuah relief-relief dinding hati dan
ingatan serta menjadi nyata atau hanya menjadi sebuah memori tanpa terwujud di
dalam drama kehidupanku.