CORETAN CORETAN WARNA

Masih, Masih, dan Masih Kamu

Senin, 21 Desember 2015



Ah sudahlah jangan berbicara tentang cinta lagi, aku sudah lelah mendengarnya.
Berdiam diri di pagi rasanya sangat melelahkan. Merasakan pagi yang sepi dan sunyi membuat diri terbelenggu dalam kepenatan saja. Lagi dan lagi berkata soal waktu. Sungguh cepat bukan, kini 22 desember 2015, yang lalu 27 september 2013. Dua tahun berlalu, berlalu begitu cepat. Bukan berarti tak ada yang terjadi. Banyak yang terjadi, sangat banyak bahkan dia pun tak tahu, begitupun aku tak tahu apa yang terjadi. Jika dihitung dengan hari lama bukan?, sekian ratus hari terhabiskan untuk memikirkan cara bagaimana membuang semuanya, bagaimana. Berusaha? kau pikir belum kulakunkan? Sudah! Mengunci rapat? Sudah pula kulalukan!. Lucu bukan? Silahkan tertawa!.
Tapi sudahlah, aku sudah letih untuk berbicara tentang ini. Tahun demi tahun semakin berubah, semakin bertambah tidak mungkin berhenti pada hari ini, tapi apa yang kulakukan, masih banyak bunga yang belum ku tanam pada dunia ini. Mau jadi apa aku? Hingga sudah setua ini tak tau kemana arah dan tujuan selanjutnya.
Entahlah aku hanya bersabar, bersabar menantikan kejutan dari Tuhan seraya berusaha. Berusaha katamu? Iya, termasuk berusaha melupakannya?. Aishhhhh sudahlah, hentikan pembicaraan kita. Sudah ku bilang letih memikirkan dia yang tak pernah memikirkan. Sudahlah bukankah dia baik-baik saja bersama dunianya. Sudah aku bilang sudah, jangan sekali-kali membicarakannya lagi. Ku bilang sudah entah esok atau lusa cukup katakan sudah untuk dia.

Kamis, 06 Agustus 2015

Kesunyian kembali menyapa pada bangku-bangku yang masih kosong. Ramainya canda dan gemuruh tawa mahasiswa pagi ini belum terdengar. Lagi dan lagi harus menunggu serta mendengar nyaringnya suara sapu yang hendak membawa sisa-sisa sampah itu pergi. kosong, antrian mahasiswa di kursi panjang juga belum terlihat. Masih dan masih menghela nafas, menunggu wajah untuk berbagi dalam kesunyian pagi ini. Terus berdetak, kaulah sang waktu yang terus kupandangi di atas sana. Hingga kapan, wajah yag diharap datang menyapa seraya tersenyum. Bosan kata orang !!!!, ah tidak, tidak boleh, sepertinya engkau adalah sang baik dari yang pernah kulihat di antara mereka. Teruslah menyapa dan tak jemu melayaniku. Semua sunyi, senyap, sepi dan dingin ini hanya untuk menunggu engkau.

Selasa, 14 Juli 2015

Baru sadar, betapa mellownya saya :-D. Tapi mellow itu udah ga ada lagi ketika kamu pergi. Serasa hidupku putih semua sekarang. Kalau dulu ada yang bikin warna biru, merah, orange tapi sekarang bluur semua, putih dan putih. Kangen, iya kangen masa-masa gila dulu. Gila nangisin kamu sama gila karna jatuh cinta sama kamu. Sekarang hidupku abstrak, kamu juga yanh ngajarin kan, ga peduli sama omongan orang, super dupeer cuek :-D. Gmanapun kamu adalah seperti pelangi dalam hidupku #lebay.an dikit. Karna kamu hidupku jadi warna warni, ga bluur seperti sekarang #ehhh. Karna kamu juga air mataku bisa sering menetes. Apalagi waktu bareng kamu, ga tau kan betapa senengnya aku, sampe kadang ngeliat kamu aja ga bisa ngomong. Kini harus aku lewati, sepi hariku tanpa cintamu lagi #itu lagu aku nyanyiin spesial buat kamu. Entahlah, kadang aku berandai-andai kamu melihat tulisanku ini. Sampai sampai aku buat seakan kamu melihatnya. Satu lagi aku mau bilang, rinduku ini sudah full berada di ruang-ruang rindu, kapan kamu kembali, kembali seperti dulu, sosok yang hangat tapi juga garang #ehhh
Sekiranya melihat tulisan ini, pasti kamu tau, iya.....kamu yang aku maksud. Ternyata perasaanku masih terhenti di kamu. Entah apa yang aku liat darimu, yang aku tau cinta, cinta dan cinta.

Sabtu, 23 Mei 2015

Ini mengagetkan sekali pangeran berkuda putih. Sangat mengagetkan, aku belum siap rasanya menerima kabarmu bersama dia. Kaukah itu yang hatimu tunduk kepadanya. Sudah aku tidak berani mengharapkanmu lagi. sepertinya Allah tidak menginginkanmu bersamaku lagi. Semoga bahagia selalu bersamamu pangeran berkuda putihku. Rindu dan rasa yang masih tersimpan ini, semoga berlalu, semoga hilang bersama engkau pangeran berkuda putih yang lain.

Minggu, 17 Mei 2015

Terima kasih sudah mampir sejenak pada perjalananku pangeran berkuda putihku. Hanya sebentar saja, tak apa pangeranku, pelajaran hidup sudah kau beri, sudah kau tambah ilmu hidupku ini. Terima kasih mas (pangeran berkuda putihku). Semaua terasa nyata dengan pelajaran hidup yang dulu terlontar darimu. Semoga tuhanku menyampaikan terima kasihku untuk kamu mas. Masih dan masih seperti dulu, semuanya masih terhenti disini, untuk kamu.

Sabtu, 02 Mei 2015

Seperti mimpi dalam satu malam. Begitu cepat dan ketika terbangun keadaan seketika berubah. Seperti cinderella yang ketika jam 12 tiba, kembali pada keadaaan semula. Ternyata baru saja bermimpi indah. Mimpi yang kuinginkan dan tuhan mengabulkannya. Sayang begitu singkat berakhir dan begitu cepat untuk berlalu. Pengharapan yang panjang ternyata berlalu begitu saja. Setidaknya sudah bermimpi, bermimpi merajut asa bersamamu, bermimpi mendesain masa depan indah bersamamu. bahkan sekarang aku takut mengharap mimpi bersamamu lagi. Takut mimpi yang kubangun itu kau runtuhkan lagi. karena mimpi itu hanya kamu untuk nanti dan selamanya. #pangeran berkuda putih :-D

Senin, 27 April 2015

Perjalanan ini begitu melelahkan. Seringkali...
saya lelah, lelah merasakan kepenatan, melaksanakan segenap aktivitas. Berhenti, 1 kata yang ingin kujalankan beberapa saat saja. Berhenti berpikir, sejenak bersantai menikmati hidup. Tapi bukankah perjalanan masih begitu panjang untuk sampai di titik puncak sana. Masih ribuan kilometer bahkan ber mil mil atau berjuta kilometer untuk mencapainya. Andai tersisa selangkah, betapa bahagia dan puas di dapat. Tidak tahu, setelah ini tidak tahu, jalan dan rintangan apa yang harus ditempuh dan dilewati. Bisakah sejenak istirahat digubuk yang layak ? Berhentilah sejenak. Tapi lihatlah ini hanya sementara, sebentar dan sementara. Perjalanan yang begitu panjang harus dihadapi. Entah kapan akan singgah di gubuk - gubuk yang lain lagi. Jalanan ini begitu penat untuk dilalui sendiri. Mengapa engkau, ya engkau memutuskan tidak melalui jalan ini bersamaku. Setidaknya jika aku lelah ada yang mengingatkanku untuk melanjutkan perjalanan ini dan setidaknya ada yang menemaniku menghadapi perjalanan yang begitu melelahkan.
Ya sudah jika engkau memutuskan memilih berjalan di jalan yang lain. Barangkali kutemukan engkau yang lain disini nanti. adakah yang melihat puncak, kelelahan ini sudah tidak terhindar lagi. Namun ada keindahan di atas sana yang memaksa diri untuk selalu melanjutkan perjalanan ini.