CORETAN CORETAN WARNA

Masih, Masih, dan Masih Kamu

Senin, 17 Oktober 2016

Ini sih sudah cerita yang lalu,
Ceritanya sudah berbeda kini. Entah setelah musim isi hati kian kosong, mana lagi batuan yang akan kupijak, tidak tahu. Benar-benar tidak tahu rasanya. Dua bulan yang lalu, pertama kalinya kaki ini menyusuri sebuah bangunan yang megah tapi kosong. Dengan rasa takut, namun tekat di dalam diri menguatkan. 
Pertama kalinya, kalian membuat rasa ini sakit, tanpa daya, dan ingin pergi pulang saja. Tapi kini sudah berbeda, seburuk apapun kalian, sebagai pendidik bangsa hati dan nurani saya telah bersatu bersama kalian. Saya hanya bisa mengantarkan kalian sampai disini anak-anakku. Jalan seluas lautan masih membentang di depan sana. Selamat berjuang, ustadzah  selalu menyimpan kenangan kita bersama.
Katanya hidup adalah sebuah pengembaraan. Entah akan terhenti atau meneruskan perjalanan atau singgah sementara di lapak ini. Namanya juga seorang pengembara, terkadang lelah. Hanya lelah ataukan kebahagiaan. Hanya ada dua hal itu atau terkadang merasa hambar. Lapak baru, lagi-lagi harus merasakan awal perjalanan sebelum melanjutkan atau hanya singgah di sini. Mana kerikil yang harus dibuang atau mana ilalang yang harus digenggam. Mana rumput yang harus dicabut dan mana bunga yang harus ditanam. Entahlah, sepertinya mata batin ini masih tertutup. Sabar, sabar semoga sang Pemilik kehidupan ini membukakan pintu yang sudah terkunci.  
Katanya setiap insan tidak ada yang sempurna, tapi mengapa penuntutan ini ada. Katanya setiap insan tempat salah, tapi nyatanya kesempurnaan diharapkan dari sebuah assesment. Dulu atau sekarang semuanya sama, lagi lagi hanya hati yang mampu mengontrol, hanya hati yang mampu memerintahkan logika untuk bertahan. Sebab logika tak lagi terjaga dikala hati sudah tergores.