CORETAN CORETAN WARNA

Masih, Masih, dan Masih Kamu

Rabu, 29 Agustus 2012

Aku, Engkau, Wanita Tangguhmu dan nya


Sejak hari itu dan sejak saat itu ilusi tentangmu tak pernah habis berputar dalam rekaman otak ini. Semakin kencang memori itu berputar hanya kesakitan yang bisa ku rasakan. Rasa kekecewaan padamu yang begitu mendalam dan rasa sakit yang seakan tiada habisnya karena memiliki rasa ini padamu. “Untuk apa kau tangisi cerita itu ? jika ia tak pernah menangisimu”, itulah sajak yang sering ku dengar dalam hari-hariku. Rasa ini begitu kuat hingga mengalahkan segalanya, realita tentang ia yang disampingmu tak pernah hentikan perasaan ini. Sempat aku berfikir mengalahkan segala rasa ini, tapi sungguh sepertinya aku masih ingin memiliki rasa ini untukmu.
Rasaku yang tak pernah pudar ini, mungkinkah kau mendengarnya disana ? mungkinkah kau merasakannya di sana ? . Aku tahu jawabmu tentang itu. Tidak.......hanya tidak yang akan kau ucapkan. Sepertinya rasa ini sudah melekat erat di dalam benak yang lara ini. Hingga teruntuknya tak dapat ku berikan hati dan perasaanku.” Membuka hati” sekali lagi. Tak bisa ku lakukan yang ada hanya membuka hati untukmu SYA. Tapi kini aku tau wanita tangguh telah berada di sampingmu. Mungkin saatnya aku tuk mundur dan pergi jauh-jauh dari kehidupanmu. Dan untuknya sekali lagi maaf yang hanya ku sampaikan padanya karena hatiku dan perasaanku hanya untukku saat ini. Untuk wanita tangguhmu maaf aku telah memberikan rasa ini pada pria sejatimu dan melibatkanmu dalam perasaanku.
Teruntuk hidupku berjalanlah seperti burung yang tak mengenal beban tentang mu, wanita tangguhmu dan nya. Terbanglah setinggi tingginya dengan mengepakkan sayap seraya berkata “Aku Wanita yang Lebih Tangguh dan Aku Mampu Meraih mimpiku setinggi-tingginya”

Minggu, 12 Agustus 2012

Sajak Tentangmu


Melalui dirimulah sajak ini dapat ku tulis dalam lembaran bait-bait tentangmu. Kau memberi rasa keindahan dan kau memberi rasa duka di dalam hidup ini. Beribu senyum ku beri untuk setiap kenangan yang kau tinggalkan. Namun beribu air mata pula ku teteskan untuk sebuah kesedihan yang banyak kau tinggalkan untukku. Memoriku tentangmu tak pernah pudar. Setiap ku buka diaryku slalu ku isi dengan lukisan kenangan kita yang sempat tertinggal di dalam otak ini. Penaku seakan tak sanggup berhenti untuk menuliskan semua kisah tentang kita. Mengapa kisah ini selalu menjadi ilusi dalam hidup ini. Kala itu sekian banyak tangisanku terbayar dengan senyuman pada 18 Juli. Ku kira aku sedang bermimpi, tak heran aku sering sekali bermimpi sedemikian rupa, yang akhirnya ketika aku terbangun semua adalah fana. Berbeda dengan malam itu ingin sekali malam itu tak pernah hilang dan berlangsung lama.
Ku tunggu kau di kotaku. Ku tunggu pertemuan kita. Sekali lagi entah apakah ini benar atau tidak atau ucapan itu hanya isapan jempol belaka. Aku selalu siap jika itu hanyalah janji manisnya, karena aku mengerti aku bukanlah siapa-siapa untuknya. Aku hanya buku usang dan lembaran masa lau baginya. Harapan bahagia ini akankah benar-benar terukir dalam sebuah relief-relief dinding hati dan ingatan serta menjadi nyata atau hanya menjadi sebuah memori tanpa terwujud di dalam drama kehidupanku.